Abstrak
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika
dan bahasa dalam proses pembelajaran di kelas sudah waktunya
diubah dengan kecerdasan majemuk yang pada dasarnya adalah
sinergi dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan
kecerdasan spiritual (SQ). Diharapkan penerapan konsep kecerdasan majemuk
dalam pembelajaran akan meningkatkan kemampuan siswa belajar.
Kata kunci: Kecerdasan, pembelajaran, siswa
Pendahuluan
Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk diperoleh anak-anak ataupun
orang dewasa. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar
dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Mengingat
akan pentingnya pendidikan, maka pemerintah pun mencanangkan program
wajib belajar 9 tahun, melakukan perubahan kurikulum untuk mencoba
mengakomodasi kebutuhan siswa. Kesadaran akan pentingnya pendidikan
bukan hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga kalangan swasta yang
mulai melirik dunia pendidikan dalam mengembangkan usahanya. Sarana
untuk memperoleh pendidikan yang disediakan oleh pemerintah masih
dirasakan sangat kurang dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan
pendidikan. Hal ini terlihat dengan semakin menjamurnya sekolah-sekolah
swasta yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi.
Kendala bagi dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas
adalah masih banyaknya sekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di
dalam menjalankan proses belajarnya yaitu sekolah hanya menekankan pada
kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan
yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003), seorang praktisi pendidikan anak,
bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak
didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian
sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang
semata-mata hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.
Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut, di
atas tetapi juga harus dilihat dari aspek kinetis, musical, visual-spatial,
interpersonal, intrapersonal, dan naturalis (Kompas, 6 Agustus 2003). Jenis-
jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan
jamak (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner pada
tahun 1983.
Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orang-
orang yang memang ahli di dalam kemampuan logika (matematika) dan
bahasa. Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orang-
orang yang memiliki talenta (gift) di dalam kecerdasan yang lainnya seperti
artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs,
dan lain-lain.
Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta
(gift), tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak
yang pada kenyataannya dianggap sebagai anak yang “Learning Disabled”
atau ADD (Attention Deficit Disorder), atau Underachiever, pada saat pola
pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh sekolah. Pihak
sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa.
Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi
delapan kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran
bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas
karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan
bahasa (Gardner, 2003). Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik
untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya
dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan
masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang
lain.
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika
(matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri
setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Yayasan Insan Kancil (Kompas, 13 Oktober 2003),
pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah
Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca,
menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah
menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan
kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan
oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika
(matematika) dan bahasa.
Menurut Moleong, dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi dalam mengembangkan
berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini. Hal ini
dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). Anak-anak usia 0 – 8 tahun harus diperkenalkan dengan
kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidak terjebak
pada kecerdasan logika semata.
Multiple Intelligences yang mencakup delapan kecerdasan itu pada
dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan
emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu
dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal
memasuki sekolah (7 – 8 tahun). (Kompas, 13 Oktober 2003).
Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap
insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah
pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemampuan logika
(matematika) dan bahasa. Bersediakah segenap tenaga kependidikan bekerja
sama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis
kecerdasan pada anak didik di dalam proses belajar yang dilaksanakan di
lingkungan lembaga pendidikan.
Tinjauan Pustaka
Teori Multiple Intelligences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar
kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam
pola pikirnya yang unik.
Ada beberapa macam kecerdasan yang diungkapkan oleh Gardner (1983)
yaitu:
- Linguistic Intelligence (Word Smart)
Pandai berbicara, gemar bercerita, dengan tekun mendengarkan cerita atau
membaca merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang
menonjol. Kecerdasan ini menuntut kemampuan anak untuk menyimpan
berbagai informasi yang berarti berkaitan dengan proses berpikirnya.
- Logical – Mathematical Intelligence (Number / Reasoning Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan logical–mathematical yang tinggi
memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi. Mereka sering
bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya. Mereka menuntut
penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka
mengklasifikasikan benda dan senang berhitung.
- Visual – Spatial Intelligence (Picture Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan visual – spatial yang tinggi cenderung berpikir
secara visual. Mereka kaya dengan khayalan internal (internal imagery),
sehingga cenderung imaginatif dan kreatif.
Bodily – Kinesthetic Intelligence (Body Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan bodily – kinesthetic di atas rata-rata, senang
bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan,
keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka
mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya.
- Musical Intelligence (Music Smart)
Anak dengan kecerdasan musical yang menonjol mudah mengenali dan
mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentranformasikan kata-kata menjadi
lagu, dan menciptakan berbagai permainan musik. Mereka pintar melantunkan
beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai menggunakan kosakata
musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam
sebuah komposisi musik.
- Interpersonal Intelligence (People Smart)
Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi yang
baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu
mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga
mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain,
serta mampu bekerja sama denganm orang lain.
- Intra personal Intelligence (Self Smart)
Anak dengan kecerdasan intra personal yang menonjol memiliki kepekaan
perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan
mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik. Ia juga mengetahui apa yang
dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan sosial.
Mereka mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan.
- Naturalist Intelligence (Nature Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan naturalist yang menonjol memiliki ketertarikan
yang besar terhadap alam sekitar, termasuk pada binatang, di usia yang sangat
dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan
fenomena alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang,
pertumbuhan tanaman, dan tata surya.
- E xistence Intelligence
Anak yang memiliki kecerdasan ini memiliki ciri-ciri yaitu cenderung bersikap
mempertanyakan segala sesuatu mengenai keberadaan manusia, arti
kehidupan, mengapa manusia mengalami kematian, dan realitas yang
dihadapinya.
Kecerdasan ini dikembangkan oleh Gardner pada tahun 1999.
Saran Aplikasi
Pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan pada kemampuan logika
(matematika) dan bahasa yang disampaikan dalam bentuk ceramah mungkin
membosankan siswa. Teori Multiple Intelligences menyarankan beberapa cara
yang memungkinkan materi pelajaran dapat disampaikan dalam proses belajar
yang lebih efektif.
Cara-cara penyampaian materi pelajaran yang dapat digunakan oleh guru
sebagai berikut:
- Kata-kata (Linguistic Intelligence)
- Angka atau logika (Logical -Mathematical Intelligence)
- Gambar (Visual -Spatial Intelligence)
- Musik (Musical Intelligence)
- Pengalaman fisik (Bodily-Kinesthetic Intelligence)
- Pengalaman sosial (Interpersonal Intelligence)
- Refleksi diri (Intrapersonal Intelligence)
- Pengalaman di lapangan (Naturalist Intelligence)
- Peristiwa (Existence Intelligence)
Sebagai contoh, jika Anda mengajarkan ekonomi tentang Hukum permintaan
pasar (Law of Supply and Demand ), maka siswa diharapkan membaca materi
yang akan disampaikan (Linguistic), mempelajari formula matematika untuk
mengetahui perhitungan tentang banyaknya permintaan atau supply (Logical-
Mathematical), membuat grafik yang mengilustrasikan hukum permintaan
tersebut (Visual – Spatial), mengamati / mengobservasi secara langsung di
pasar (Naturalist), mengamati sistem perdagangan yang dilakukan oleh orang-
orang pada umumnya (Interpersonal).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar